Cerita ngentot dengan pembantu yang terangsang
Aku masih tergolek di ranjang saat istriku sibuk bersiap-siap berangkat kerja. Dia memang harus selalu berangkat pagi, beda sama aku yang kerjaannya santai, jadi enggak perlu buru-buru. Enggak lama, aku dengar dia pamit dan langkah kakinya pelan-pelan menjauh dari rumah.
Baru saja aku mau tarik selimut lagi, tiba-tiba ada suara langkah kaki mendekat ke pintu kamar. Sialan, aku langsung ingat kalau itu pasti Lia, eh, maksudku Lisa, pembantu kami. Istriku memang sengaja nyuruh dia bersih-bersih rumah sepagi mungkin. Lisa itu umurnya 19 tahun, badannya mungil tapi sintal, berisi gitu. Jujur, selama ini aku cuma merhatiin aja, enggak pernah kepikiran yang macem-macem.
Beberapa saat setelah suara langkah kaki itu makin jelas, Lisa muncul di ambang pintu. Dia ketuk pelan, "Permisi sebentar ya," dia bilang, "Boleh saya masuk?" terus langsung nyelonong aja sambil bawa sapu, enggak nunggu aku jawab. Pagi itu, entah kenapa, aku jadi merhatiin dia. "Lumayan juga," batinku. Karena aku selalu tidur cuma pakai celana dalam, aku kepikiran buat ngegodain dia. Aku pura-pura menggeliat ke samping, "Eunghhh..." pelan, biar selimutku tersingkap. Bagian bawahku benar-benar kebuka, dan penisku sudah mengeras sejak bangun tidur tadi, belum sempat ke kamar mandi. Dari celah mataku yang sedikit terbuka, aku lihat Lisa berkali-kali melirik ke arah celana dalamku yang menonjol dan tegang. Tapi dia tetap aja sibuk bersih-bersih, enggak nunjukin ekspresi apa-apa.
Selesai dengan urusannya, Lisa keluar dari kamar. Aku langsung bangkit, ke kamar mandi buat kencing. Aku lepas celana dalamku, pakai handuk, terus keluar nyari minum. Kulihat Lisa masih sibuk di ruangan lain. Aku merebahkan diri di sofa depan TV, di ruang keluarga. Pikiran iseng langsung muncul: gimana kalau aku bikin Lisa 'menguasai pelajarannya' lebih dalam? Aku mikir, topik apa ya yang pas? Soalnya selama ini aku jarang ngobrol sama dia.
Sambil merhatiin Lisa yang sibuk, aku inget apa yang pernah istriku bilang soal dia. Oh iya, Lisa punya masalah bau badan. Senyum tipis mengembang di bibirku. Aku panggil dia, "Lisa, sini sebentar!" kataku, "Berhenti dulu deh, sebentar aja." Lisa mendekat, terus duduk di bawah, sopan banget, sampai enggak ada celah buat ngelihat vaginanya.
Aku mulai obrolan, "Lisa, beneran kamu ada masalah bau badan ya?" tanyaku. Aku beralasan kalau nanti bakal banyak tamu sama relasi yang dateng, jadi dia harus lebih merhatiin masalah itu. Lisa ngangguk, "Iya, Pak." dia jawab, terus mulai berani ngomong satu dua hal. Aku lanjutin ngobrolin soal itu, dan dia nanggepin dengan baik. Sengaja, aku duduk santai, seolah enggak sengaja, jadi penisku yang cuma ketutup handuk kelihatan jelas sama dia. Aku perhatiin mata Lisa berkali-kali ngelirik ke arah penisku yang tanpa sadar mulai mengeras lagi.
Terus, aku nyeletuk, "Aku boleh cium bau badanmu enggak?" Lisa kaget. Pertanyaanku memang berani banget, apalagi mata dia lagi ngelirik ke penisku tadi. Buat nutupin malunya, dia cuma ngangguk, "Iya, Pak." Aku suruh dia mendekat, dan dari jarak beberapa senti, aku coba cium bau badannya. "Hmm, baunya enggak begitu jelas," kataku, "Pasti sumbernya dari ketiak. Coba deh, tunjukin ketiakmu." Lisa diam sebentar, mungkin mikir, harus apa enggak ya? Aku nyadarin dia lagi, "Ayolah, tunjukkin aja ketiakmu." Melihat tatapan bingung Lisa, aku langsung ngerti kalau dia enggak tahu mesti gimana. Aku langsung nuntun dia biar enggak bingung. "Naikin aja kaosmu," kataku, "Biar aku bisa periksa ketiakmu. Jangan malu, enggak ada siapa-siapa kok di rumah."
Pelan-pelan, Lisa ngangkat kaosnya. "Yes!" aku bersorak dalam hati. Kulit putih mulusnya mulai kelihatan, terus payudaranya yang lumayan besar ketutup BH sempit juga mulai nongol. Penisku langsung membesar dan mengeras penuh. Setelah ketiaknya kelihatan, aku deketin hidungku. Bulu ketiaknya lumayan lebat. Aku hirup udara di sekitar ketiaknya. Baunya menggairahkan, dan aku deketin lagi hidungku sampai nyentuh bulu ketiaknya. Lisa agak kaget, terus menjauh dan nurunin bajunya.
"Kamu harus potong bulu ketiakmu kalau mau bau badanmu hilang," kataku. Lisa ngangguk, "Iya, Pak. Nanti saya cukur." Aku merhatiin wajah Lisa yang kelihatan beda, merah padam. Aku heran kenapa, setelah kulihat lagi, mata Lisa sesekali ngelirik ke arah penisku. Handukku tersingkap, dan penisku yang membesar dan memanjang terpampang jelas di depan mata Lisa. Pasti tersingkap pas Lisa kaget tadi. Aku minta Lisa mendekat lagi, "Ini wajar kok," kataku, "Aku lagi deket sama perempuan, apalagi pas lagi lihat yang di dalam baju. Wajar kalau penisku jadi gini." Dengan malu, Lisa nunduk.
Aku ngelanjutin omonganku, tiba-tiba memuji badannya Lisa, "Badanmu bagus ya, putih." Terus, "Bibirmu juga bagus." Aku berdiri sambil memegang tangan Lisa, terus minta dia berdiri berhadapan. Kami saling tatap sebentar, dan aku mulai deketin bibirku ke bibirnya Lisa. Kami berciuman cukup lama, sangat menggairahkan. Aku ngerasain Lisa nafsu banget, mungkin udah dari tadi pagi dia terangsang. Tanganku yang udah dari tadi di payudara Lisa, aku arahin ke tangannya, terus narik dia ke sofa.
Aku nidurin Lisa dan menindihnya dari pinggul ke bawah, sementara tanganku sibuk buka bajunya Lisa. Beberapa saat Lisa kayak sadar dan ngelawan. Aku berhenti sebentar, sambil buka bajuku juga. Aku cium lagi bibir Lisa lamaaa banget. Begitu Lisa udah mulai mendesah, "Ahhhhh... Mmmphhh..." pelan, tanganku yang dari tadi meremas payudaranya aku arahin ke belakang buat buka kaitan BH-nya.
Terpampanglah payudara Lisa yang cukup besar dengan puting besar cokelat muda. Lumatan mulutku pada payudara Lisa bikin dia benar-benar terangsang. Dengan mudah tanganku menuju ke arah vaginanya yang masih bercelana dalam, sedangkan tanganku yang satu lagi menarik tangan Lisa buat memegang penisku. Otomatis, tangan Lisa langsung meremas dan mulai naik turun di penisku. Sementara itu, aku sibuk naikin rok Lisa sampai celana dalamnya kelihatan semua. Dengan menyibak celana dalamnya, vagina Lisa yang basah dan sempit itu langsung jadi mainan jari-jariku.
Tapi enggak berapa lama, aku ngerasain paha Lisa menjepit tanganku, dan tangannya memegang tanganku biar enggak bergerak dan enggak ninggalin vaginanya. Aku sadar Lisa mengalami orgasme yang pertama. Setelah mereda, aku peluk erat badannya dan terus berusaha merangsangnya. Bener aja, beberapa saat kemudian, Lisa udah kembali bergairah, cuma kali ini lebih berani. Lisa buka sendiri celana dalamnya, terus berusaha nyari dan memegang penisku, sementara secara bergantian bibir dan payudaranya ku-ulum olehku.
Dengan tanganku, vagina Lisa ku-elus-elus lagi, mulai dari bulu-bulu halusnya, bibir vaginanya, sampai ke dalam, dan daerah sekitar lubang anusnya. Sensasinya pasti besar banget, sampai Lisa tanpa sadar menggeliat-geliat keras. Kesempatan ini enggak aku sia-siakan. Bibirku pindah ke bibir Lisa, sementara penisku ku-dekatkan ke bibir vaginanya, ku-elus-elus sebentar, lalu mulai ku-masukkan pada bibir vagina Lisa. Kayak suami istri, kami seakan lupa segalanya. Lisa bahkan mengerang minta penisku segera masuk. "Ahhh... Masukin, Pak! Pleash!" Karena basahnya vagina Lisa, dengan mudah penisku masuk sedikit demi sedikit.
Sebagai wanita yang baru pertama kali berhubungan badan, terasa banget otot vagina Lisa menegang dan bikin penisku susah masuk. Dengan membuka paha Lisa lebih lebar dan mendiamkan sebentar penisku, aku ngerasain Lisa agak rileks. Ketika itu, aku mulai memaju mundurkan penisku walau hanya bagian kepalanya saja. Tapi sedikit demi sedikit penisku masuk dan akhirnya seluruh batangnya masuk ke dalam vagina Lisa. Setelah didiamkan sebentar, aku mulai bergerak keluar dan masuk, dan sempat terlihat cairan berwarna merah muda, tanda keperawanan Lisa udah aku renggut. Erangan nikmat kami berdua, "Aaaahhh... Mmmhh..." terdengar sangat romantis saat itu. Lisa belajar cepat banget, dan vaginanya terasa meremas-remas penisku dengan sangat lembut. Hingga belasan menit kami bersetubuh dengan gaya yang sama, karena aku mikir nanti aja ngajarin gaya lain.
Penisku udah berdenyut-denyut, tanda sebentar lagi bakal ejakulasi. Aku nanya Lisa apa dia juga udah hampir orgasme. Lisa ngangguk pelan sambil senyum. Dengan aba-aba dariku, aku ngajak Lisa buat orgasme bareng. Lisa makin keras menggeliat, "Ahhh... Ahhh... Ahhh..." sampai akhirnya aku bilang kami keluar sama-sama. Beberapa saat kemudian, aku ngerasain air maniku muncrat dengan derasnya di dalam vagina Lisa yang juga menegang karena orgasme.
Lisa memeluk badanku erat banget, dia lupa kalau aku ini majikannya. Akupun lupa kalau Lisa itu pembantuku, aku peluk dan cium Lisa dengan erat. Dengan muka sedikit malu, Lisa tetap tertidur di sampingku di sofa itu. Aku merhatiin dengan lega, enggak ada penyesalan di wajah Lisa, justru yang ada cuma kepuasan. Aku bilang ke dia kalau permainannya hebat banget, dan mengajak dia untuk mengulang jika dia mau, dan dijawab dengan anggukan kecil dan senyum.
Sejak saat itu, kami sering melakukannya kalau istriku lagi enggak ada. Kami melakukannya di kamar tidurku, kamar tidur Lisa, kamar mandi, ruang tamu, ruang makan, dapur, garasi, bahkan dalam mobil. Lisa ikut sama kami hingga bertahun-tahun, sampai suatu saat dia dipanggil orang tuanya buat dinikahin. Aku sama Lisa saling melepas dengan berat hati. Tapi sesekali Lisa dateng ke rumahku khusus buat ketemu aku, setelah sebelumnya nelpon buat janjian. Dan anak satu-satunya menurut Lisa adalah anakku, karena suaminya mandul. Tapi enggak ada yang pernah tahu kalau anak itu hasil hubungan gelapku sama dia, dan hubungan kami terus berlanjut sampai sekarang.