Cerita Ngentot Adik Kandung Nakal Putih Mulus

Cerita Dewasa Adik Kandung

Dulu, aku sama Laras, adik kandungku, memang udah dewasa. Aku, Rudi, baru aja mulai kerja setelah lulus kuliah. Laras juga udah mau kelar kuliahnya. Kami berdua ini dari keluarga yang lumayan berada. Orang tua kami sering banget dinas keluar kota, bikin rumah jadi punya kami berdua. Banyak waktu luang yang kami habiskan berdua di rumah itu. Laras itu, ya ampun, cantik banget. Semua orang di lingkungan sosial kami tahu gimana menariknya dia. Dia juga pinter banget bergaul, semua orang kayaknya langsung suka sama dia begitu kenal. Tapi, ada satu sisi Laras yang cuma aku yang tahu. Sisi yang lebih pribadi dan… intim.

Hubunganku sama Laras memang beda. Aku punya perasaan yang lebih dari sekadar kakak ke adik. Ada rasa romantis yang dalam banget. Dia kebanggaan keluarga, beneran. Tapi di balik semua itu, ada Laras yang cuma aku ngerti. Dia memang manis di luar, tapi di dalam, dia punya sisi yang bikin aku makin jatuh cinta. Sisi yang berani dan kadang malah manja banget kalau cuma sama aku. Orang tua kami yang sibuk itu, justru ngasih kami kebebasan yang gede banget. Ya, kami kadang beda pendapat, wajar lah ya kakak-adik. Tapi karena udah dewasa, kami selalu bisa nyelesain semuanya pakai omongan baik-baik. Komunikasi itu penting buat kami.

Nah, pas liburan panjang kuliah, suatu hari Sabtu di bulan Juli, orang tua kami pergi lagi, memberikan mereka kesempatan untuk menghabiskan waktu berdua. Laras, meskipun terlihat biasa saja, diam-diam menantikan momen kebersamaan yang lebih dalam ini.

Aku ingat banget malam itu. Aku ngajak Laras nonton film baru di DVD. "Nonton yuk, Ras?" aku bilang, "Ada film baru nih, katanya bagus." Laras ngeliatin aku sebentar, terus senyum tipis. "Malu-malu amat sih," batinku. "Boleh aja," jawabnya, "Aku juga bosen di kamar terus." Dia bilang gitu sambil agak nunduk.

Aku tahu itu tanda kalau dia setuju, tapi masih malu-malu kucing. Kami duduk di sofa ruang tengah, suasana nyaman banget. Filmnya sih lewat aja, karena yang penting buat kami itu ngobrol. Kami cerita banyak hal, dari yang ringan sampai yang paling pribadi. Aku makin ngerasa deket banget sama dia. Perasaan yang selama ini kupendam, makin lama makin kuat. Ikatan emosional kami kayak ditarik kencang, makin erat, dan aku tahu Laras juga ngerasain hal yang sama.

Malam makin larut, suasana makin nyaman. Aku bisa ngerasain hawa hangat di antara kami. Tanganku yang tadinya cuma ditaruh di sofa, pelan-pelan aku geser. Aku sentuh tangannya Laras, lembut banget. Dia nggak narik tangannya. Malah, jari-jarinya mulai bergerak, bales sentuhan jariku.

"Ras," aku bilang, "Kamu nyaman?" Laras cuma ngangguk pelan, "Nyaman, Kak." Suaranya itu, pelan banget, kayak bisikan angin.

Aku makin berani. Aku pegang tangannya, aku remas pelan. "Lebih deket sini," aku bilang. Laras nggak nolak, dia geser badannya, makin deket ke aku. Kepalanya nyender di bahuku. Aku bisa ngerasain napasnya yang teratur di leherku. Jantungku berdegup kencang, nggak karuan. Perasaan ini, rasanya campur aduk. Antara seneng, gugup, tapi juga ada rasa cinta yang kuat banget.

Tanganku bergerak. Aku angkat tanganku pelan, terus aku sentuh pinggangnya. Laras sedikit bergerak, tapi nggak ada penolakan sama sekali. Aku makin berani. Tanganku naik, pelan-pelan, sampai ke dadanya. Aku bisa ngerasain payudaranya yang lembut lewat bajunya.

Aku remas pelan. Laras langsung mendesah, "Hmmmmph..." suaranya itu bikin tubuhku makin panas. Aku tahu dia juga ngerasain hal yang sama. Aku remas lagi, sedikit lebih kencang. Laras mengerang, "Ahhh... pelan-pelan, Kak..." nadanya itu bukan nolak, tapi kayak minta lebih. Aku paham.

Aku cium puncak kepalanya, terus turun ke pipinya. Laras angkat kepalanya, "Kak..." Dia nggak ngomong apa-apa, cuma senyum. Aku deketin bibirku ke bibirnya. Dia nggak mundur. Malah, dia ngedorong badannya sedikit lebih deket.

Aku cium bibirnya. Awalnya pelan, terus makin kencang. Lidahku masuk, jilat bibir bawahnya. Laras bales ciumanku, lidahnya juga ikut bergerak, ngajak main. Ciuman kami makin panas, makin intens. Aku bisa ngerasain tangannya yang melingkar di leherku, jari-jarinya masuk ke rambutku, remas rambutku pelan.

"Laras..." aku bilang di sela ciuman. "Aku sayang kamu." Dia narik napas dalam, "Aku juga, Kak..." Aku bisa ngerasain gairah yang kuat banget dari dia. Tubuh kami makin nempel, nggak ada jarak sama sekali.

Aku makin remas payudaranya. Laras mendesah lagi, "Ahhh... enak, Kak..." Aku lepas ciuman di bibirnya, terus turun ke lehernya. Aku jilat lehernya, bikin dia geli dan mendesah lagi, "Ughhh... geli..." Aku suka banget denger desahannya. Itu bikin aku makin menggairahkan.

Tanganku bergerak lagi, turun ke bawah, ke perutnya, terus makin turun lagi. Aku bisa ngerasain celana dalamnya. Aku elus vaginanya lewat celana. Laras langsung kaget, tubuhnya tegang. Tapi setelah itu, dia rileks lagi, malah ngedorong tanganku makin nempel.

Aku remas vaginanya pelan. "Hmmmmph..." dia mengerang. "Kamu siap?" aku bisikin. Laras ngangguk, napasnya tersengal-sengal. "Iya, Kak... siap..."

Aku angkat Laras, aku dudukin dia di pangkuanku. Kakinya melingkar di pinggangku. Aku buka kancing celanaku, ngeluarin penisku. Laras ngeliatin, matanya berbinar. "Besar, Kak..." dia bilang pelan. Aku senyum, "Mau coba?" Dia ngangguk cepet. Tanganku pegang penisku, terus aku arahin ke vaginanya. Aku masukan pelan.

"Ahhh... pelan-pelan, Kak..." Laras mendesah kencang. Aku masukan lagi, makin dalam. "Hmmmmph... enak..." Aku bisa ngerasain gimana rapatnya vaginanya melingkar di penisku. Aku gerakin pinggulku, pelan dulu.

Laras mengerang dan mendesah bersahutan, "Ahhh... ahhh... lebih cepat, Kak..." Aku nurutin. Aku gerakin pinggulku makin cepat, makin kencang.

Laras mendesah makin kencang, "Ohhh... ohhhh... terus, Kak..." Dia meluk aku erat banget, kukunya nancep di punggungku. Aku bisa ngerasain tubuhnya yang gemetar. Aku terus bergerak, makin cepat, makin kencang.

Suara gesekan tubuh kami, desahan Laras, semua itu bikin aku makin hilang kendali. "Aku mau keluar, Ras..." aku bilang. "Bareng, Kak..." dia jawab.

Akhirnya, aku muncrat di dalam vaginanya. Laras juga mendesah kencang, terus tubuhnya tegang, lemas di pelukanku. "Ahhhhhhh..." dia mengerang panjang. Kami berdua mengatur napas. Jantungku masih berdegup kencang. Aku peluk dia erat-erat. Laras nyender di dadaku, wajahnya puas.

"Kakak..." dia bilang pelan. "Makasih..." Aku cium keningnya. "Sama-sama, Sayang."

Setelah malam itu, hubungan kami jadi makin dalam. Kami berdua ngobrolin perasaan kami secara terbuka. Kami mutusin buat lanjutin hubungan ini, sebagai sepasang kekasih dewasa yang saling mencintai.

Kami nggak perlu malu atau takut lagi. Setiap ada kesempatan, kami selalu habisin waktu bareng. Kadang cuma ngobrol, kadang nonton film, tapi seringnya sih kami nikmatin kedekatan fisik kami. Kami menjelajahi setiap sentuhan, setiap jilat, setiap hisap, setiap remas, dengan persetujuan dan kepercayaan. Rasanya kayak kami menemukan dunia baru yang cuma kami berdua yang tahu.

Laras makin berani setelah itu. Dia nggak malu lagi buat nunjukkin rasa sayangnya. Sering banget dia tiba-tiba nyium aku, atau ngerangkul aku di depan umum. Dia juga sering banget manja, minta aku remas payudaranya atau jilat putingnya kalau lagi santai di rumah. Aku juga jadi lebih ekspresif.

Pas Laras lulus kuliah, aku dipindah tugas ke Jakarta, kerja di sebuah bank ternama. Aku langsung kepikiran buat ngajak Laras tinggal bareng. "Ras, ikut aku ke Jakarta ya," aku bilang, "Biar kita bisa saling support di sana. Aku butuh kamu." Laras langsung setuju, matanya berbinar. "Serius, Kak? Boleh?"

Orang tua kami, yang nggak tahu detail romansa kami, setuju aja. Mereka ngelihat kami udah dewasa dan serius sama hidup masing-masing. Mereka pikir kami cuma mau saling bantu urusan kerjaan dan kuliah. Mereka nggak tahu kalau "saling support" itu maksudnya lebih dari sekadar dukungan moral.

Akhirnya, kami berdua pindah ke Jakarta. Tinggal di apartemen yang lumayan gede. Kami ngerasain kebebasan yang lebih total. Setiap hari, kami nikmatin kebersamaan kami sebagai pasangan dewasa.

Laras, dari yang tadinya malu-malu, sekarang udah jadi wanita yang lebih percaya diri dan ekspresif. Dia nggak segan lagi buat memulai duluan, buat memasukan penisku atau bahkan mengulum sampai aku muncrat. Dia bener-bener berubah jadi seseorang yang lebih berani dan passionate dalam hubungan kami. Aku sayang banget sama dia. Dan kami berdua tahu, hubungan ini adalah pilihan kami, pilihan yang kami buat dengan kesadaran dan cinta yang dalam.

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel