Cerita Dewasa Bercinta di Apartemen Dengan Tante Dewi Sampai Pagi
"Dulu itu, aku, Rendi, seorang perantau sukses umur 28 tahun, tinggal di apartemen Kalibata sendirian," "rasanya sepi banget apalagi setelah putus sama pacar kemarin," batinku. "Padahal udah mapan, tapi ya gitu deh, hidup ini kadang emang ngeselin."
Apartemenku itu sebelahan sama kamar Dewi, seorang wanita berusia sekitar 35 tahun, yang sering aku panggil "Tante". Aku tuh suka banget sama tipe cewek dewasa kayak Tante Dewi ini. Dia tuh gayanya santai, bajunya sederhana, tapi auranya seksi tanpa kelihatan norak, "beda jauh sama ABG yang cuma modal menor," gumamku.
Aku sama Tante Dewi udah lumayan akrab. Tiap pagi, sering banget satu lift bareng. Kadang ketemu di toko DVD-nya Tante, atau pas lagi renang rutin di apartemen. Pokoknya, seringlah. Nah, setelah aku putus, entah kenapa, pertemuan kami jadi makin sering, "kayak sengaja diatur semesta gitu," pikirku.
Suatu hari, aku beraniin diri minta PIN BBM Tante Dewi. "Siapa tahu ada peluang," batinku sambil cengengesan. Eh, dia malah ngasih dengan senang hati. Dari situ, kami mulai sering chatting. Awalnya sih basa-basi doang, nanya udah makan apa belum, gitu-gitu. Tapi lama-lama, chat-nya jadi makin intim.
"Pacar kamu mana, Ren?" tanya Tante Dewi suatu malam pas kami lagi chatting.
Aku langsung bales, "Udah putus, Tante. Dia manja banget, egois lagi." "Males deh, punya pacar kayak anak kecil," ujarku sambil geleng-geleng.
"Makanya, jangan suka sama ABG," balas Tante Dewi, "itu mah emang masanya mereka manja." Aku cuma nyengir baca balesannya. Terus gantian aku yang nanya, "Emangnya Tante sendirian aja di sini?"
"Iya, aku nggak mau pacaran lagi," jawabnya, "dulu pernah dikecewain, jadi sekarang milih hidup bebas aja, gak mau terikat." Aku cuma bisa manggut-manggut, padahal dia gak bisa lihat aku.
Chatting kami jadi makin panas, makin sering ketemu juga. Kami jadi sering renang bareng. Ini kesempatan emas buat aku mandangin tubuh Tante Dewi yang dibalut pakaian renang sopan, tapi tetap aja itu menggairahkan.
"Ren, aku dengerin lho, suara kamu sama pacar kamu pas lagi gituan," kata Tante Dewi tiba-tiba suatu sore pas kami lagi duduk-duduk di tepi kolam renang. Aku kaget banget, "Masa sih, Tante?" tanyaku. Aku kira suaraku gak kedengeran.
"Iya, kedengeran sampai kamarku," balasnya santai, "emang kamu kuat berapa lama sih, gak making love setelah putus?" Tante Dewi ketawa, ngegodain aku.
Aku cuma bisa nyengir malu, tapi di dalam hati, "sial, ketahuan juga." "Pengen sih, Tan," akhirnya aku ngaku jujur, "tapi nggak tahu sama siapa." Aku diem sebentar, mikir. "Tante mau bantu aku?" tanyaku ragu-ragu.
"Aku juga butuh kok," jawab Tante Dewi cepat, "kita bisa saling bantu." Dia nambahin, "Lima belas menit lagi ke kamarku ya." Aku langsung seneng banget.
"Jangan pake make up ya, Tante," pintaku.
"Oke," balasnya singkat.
Lima belas menit kemudian, aku udah di depan pintu kamarnya Tante Dewi. Pas aku ketuk, Tante Dewi cuma ngeluarin kepalanya dikit, terus langsung narik tanganku buat masuk. "Dug!" Pintu tertutup cepat. Dia kelihatan seger banget, abis mandi, tanpa make up sama sekali, dan dia cuma pake lingerie hijau transparan tanpa daleman. "Gila, ini sih bencana," batinku.
Aku cuma pake kaus oblong sama celana gombrong tanpa CD. Aku jadi ngerasa gak sopan banget. "Aduh, maaf Tante, aku gak pake ini," kataku sambil nunjuk celana gombrongku.
"Nggak apa-apa," balas Tante Dewi enteng, "nanti kan aku juga yang bongkar pakaian kamu." Dia senyum menggairahkan.
Kami duduk di sofa, ngobrol macem-macem. Dari Bom Boston, teori konspirasi, sampai doktrin agama. Aku mikir, "ini semacam icebreaking atau tes intelektual ya?" Tapi aku tetep ngikutin aja.
Obrolan kami berhenti pas Tante Dewi tiba-tiba nyium bibirku. Awalnya french kiss yang panas banget dari dia, agresif. Aku agak kaget, tapi aku coba nenenangin dia, ngajak ciuman yang lebih romantis, pelan-pelan. Dia nurut. Tanganku mulai bergerak, membelai perutnya, terus nyenggol payudara besarnya yang udah kerasa banget putingnya udah mengeras.
Tante Dewi mulai mengerang pelan, badannya bergerak-gerak. Tanganku yang kiri turun lagi, makin ke bawah, ke area vagina Tante Dewi. Ternyata, vaginanya udah basah banget. Aku coba masukkin satu jariku ke dalem vaginanya.
"A-ahhh!" Tante Dewi langsung tersentak, mengerang hebat. "B-beb!" Dia sampe manggil aku 'Beb'. Aku terusin sodokanku, makin dalam, bikin Tante Dewi makin meronta-ronta. "ML-in aku! Sekarang!" teriaknya.
Aku meremas payudaranya, sambil ngobel vaginanya. Pas Tante Dewi mau ganti posisi, aku tahan badannya. Dia makin mengerang, "Ahhh... ahhh... Ren...!"
Tiba-tiba, Tante Dewi mencakar tanganku yang lagi meremas payudaranya. "Nggggghhhhhh....!" Dan, dia squirt. Cairan hangat langsung muncrat, membasahi lingerie Tante Dewi, paha, sampai tanganku, "byurrr!" Untungnya, sofa kulit sintetis Tante Dewi lumayan nahan, jadi nggak sampai banjir ke lantai.
Nafas Tante Dewi yang tadinya memburu, sekarang mulai tenang. Wajahnya merah padam. Dia langsung merebut tangan kananku, terus narik badanku, bikin aku jatuh di atas cairan squirt-nya. Tante Dewi langsung menindihku. Kami bergulat, terus berguling-guling ke karpet bulu di lantai.
Dia terus nyerang aku, nindihin badanku, terus nyiumin aku brutal banget. "Pelan-pelan, Tante!" kataku, tapi dia kayak gak denger. Kontolku udah keras banget, gesek-gesekan sama celana lingerie-nya. Tante Dewi langsung merebut kontolku, ngocoknya kencang sambil terus nyiumin bibirku.
Aku balas dendam, nyoblos vagina Tante Dewi pake jari telunjukku. "Aaaaaarrrggghhhh!" Dia teriak, terus nampar aku, pelan sih. "Lagi, Ren! Lagi!" pintanya.
Dia langsung ngebalik badannya, dan tiba-tiba mulutnya udah di kontolku. "Mmmppphhh..." Dia mulai mengulum kontolku. Aku gak mau kalah, langsung menjilati vaginanya. Posisi 69 ini berlangsung lebih dari setengah jam.
"Kok kamu belum keluar, sih?" tanya Tante Dewi di sela-sela blowjob-nya. Belum selesai aku jawab, dia squirt lagi untuk kedua kalinya, pas banget ke wajahku. "Byurr!" Dia tetep ngelanjutin blowjob sambil bilang, "Aku mau kontol kamu."
"Boleh aku masukin?" tanyaku. Dia beranjak, tapi blowjob-nya gak dilepasin. Pas aku udah mau muncrat, dia langsung ngelepasin blowjob-nya, terus nyium bibirku. Kami berciuman sambil berdiri. "Ke kamarku yuk," ajaknya.
Di kamar, aku angkat tubuh Tante Dewi ke tempat tidur, dan kontolku yang tegang mulai memaksa masuk ke vagina Tante Dewi yang masih tertutup lingerie. Aku ngelempar dia ke kasur, lalu aku langsung buka celana sama kausku.
Pas Tante Dewi mau buka lingerie-nya, aku tahan tangannya. "Biar aku aja yang bantu," kataku. Aku langsung nyerang dia dengan ciuman ganas. Tempat tidur jadi berantakan. Aku gak sabar, saking semangatnya, lingerie Tante Dewi sampe robek pas aku buka.
"Nggak apa-apa," katanya santai, "cepetan masukin aku." Kontolku masuk pelan-pelan ke vagina Tante Dewi.
"Aaaahhh... Enak!" Tante Dewi mengerang kesenangan, "Punya kamu tebel banget, Ren!"
Aku langsung menghantamnya keras sekali. "Ahh! Mmmphh!" Tante Dewi langsung banjir, terus goyangin pantatnya. Aku ngelanjutin genjotan dengan variasi posisi misionaris, pelan dan cepat.
Tante Dewi ngambil kendali, kami berguling ke samping, Tante Dewi segera memasukkan kembali kontolku ke vaginanya. Dia ngegenjot aku perlahan dengan ritme konstan, sesekali menciumi bibirku dan ngegigitin putingku. Erangan dan genjotannya makin kencang.
"Ahhh... Ahhh... Ren!" Dia narik tanganku, ngejambak rambutku, dan melingkari tubuhku pake kakinya sambil terus ngegenjot. Pas erangan Tante Dewi makin keras, dia orgasme.
Dia kelihatan puas banget, tapi aku belum ejakulasi. "Kamu hebat, Ren," kata Tante Dewi sambil ngelus pipiku, "aku janji nggak bakal biarin kamu pulang sebelum kamu ejakulasi."
Tiba-tiba, perutku bunyi, "Krukkkkk..." Tante Dewi ketawa, "Laper ya?"
Kami mutusin buat istirahat bentar, terus pesen bakmi. Aku ngeliat jam, udah pukul 7 malam. Setelah makan sama ngobrol, kami lanjut lagi 'berhubungan', sampai pagi, total 4 ronde. Aku ejakulasi 2 kali.
"Makasih ya, Tante," kataku setelah kami rebahan, "aku puas banget."
"Sama-sama, Ren," balas Tante Dewi, "kamu hebat, lalu bertanya kapan-kapan bisa melakukannya lagi."
"Kapanpun Tante mau, aku siap," janjiku.
Aku pamit pulang jam 3 pagi, tapi Tante Dewi ngajakin aku nginep. "Kalau kamu pulang besok, aku mandiin deh," katanya.
"Waduh..." Aku cuma nyengir. Aku cuma nyengir. Akhirnya aku mutusin buat pulang. Rasanya berat banget ninggalin kamar Tante Dewi. Badanku masih pengen nempel terus sama dia. Tapi ya mau gimana lagi, aku harus pulang. Aku beranjak pelan dari kasur, mengambil pakaianku yang berserakan. Tante Dewi cuma mendesah pelan, dia seolah paham.
"Hati-hati ya, Beb," kata Tante Dewi, dengan nada tenang. Dia tidak bergerak dari kasur, cuma menopang tubuhnya dengan satu siku.
"Siap, Tante," jawabku sambil menyambar kaus dan celana. Aku buru-buru memakainya. Setelah rapi, aku mendekat ke arahnya. Tante Dewi meraih tanganku, menariknya pelan ke bibirnya, lalu mencium telapak tanganku. "Sampai ketemu lagi," bisiknya.
Aku mengangguk. "Pasti, Tante," kataku. Aku membalikkan badanku, melangkah keluar dari kamarnya. Pintu tertutup di belakangku. Lorong apartemen terasa sunyi. Aku berjalan pelan menuju kamarku sendiri, langkahku terasa berat. Sampai di kamar, aku langsung ambruk di kasur.
Beberapa hari setelah itu, rutinitas kami kembali seperti biasa, tapi ada yang berbeda. Setiap kali kami berpapasan di lift, ada senyum tipis yang kami tukarkan, senyum yang cuma kami berdua yang tahu artinya. Kadang, dia akan menyelipkan kalimat singkat, "Udah mandi, Beb?" dengan nada menggoda, atau "Sibuk banget kayaknya?" sambil mengerling. Aku cuma bisa nyengir sambil membalas dengan kalimat sejenis.
Chatting kami via BBM juga jadi makin sering. Topiknya lebih dalam. Kami membahas banyak hal, dari keseharian, pekerjaan, sampai hal-hal yang kami suka dan tidak suka. Aku jadi tahu lebih banyak tentang dia. Ada ketertarikan yang lebih dari sekadar fisik.
Suatu sore, aku lagi sendirian di apartemen, bosan. Tiba-tiba handphone-ku bergetar. Notifikasi BBM dari Tante Dewi. "Ren, ada waktu nggak?" tanyanya.
"Ada, Tante. Kenapa?" balasku cepat.
"Mampir ke sini dong, aku ada yang mau dibantu nih," jawabnya. Ada emotikon mata genit di akhir pesannya. Aku langsung tahu maksudnya. "Oke, Tante. Langsung meluncur," balasku.
Aku buru-buru ganti baju. Aku pakai celana training sama kaus longgar. Sengaja, biar gampang dilepas. Aku berjalan cepat menuju kamarnya. Ketika aku ketuk, pintu langsung terbuka. Tante Dewi sudah berdiri di baliknya. Dia pakai daster satin tipis warna biru muda. Rambutnya diikat asal-asalan.
"Masuk, Sayang," katanya pelan sambil menarik tanganku masuk. Begitu pintu tertutup, dia langsung memelukku erat. Aku membalas pelukannya. Tubuhnya terasa hangat di balik daster tipisnya.
"Ada apa, Tante? Mau dibantu apa?" tanyaku.
Tante Dewi mengangkat kepalanya, bibirnya menyunggingkan senyum nakal. "Bantu aku biar nggak kesepian," bisiknya, suaranya pelan dan menggoda.
Dia tidak menunggu jawabanku. Bibirnya langsung menempel di bibirku. Ciumannya hangat dan dalam. Aku membalas ciumannya dengan kencang, melumat bibirnya. Tanganku bergerak turun, meremas pinggulnya, menariknya makin rapat ke tubuhku.
Tante Dewi mengerang pelan di sela ciuman kami. Tangannya juga aktif, meremas punggungku, menarikku lebih dekat. Aku merasakan penis-ku mulai menegang. Tante Dewi pasti merasakannya juga.
Dia melepaskan ciuman, tapi wajahnya masih dekat dengan wajahku. Napasnya memburu. "Kamu bikin aku gila, Ren," bisiknya. Tangannya mulai bergerak, membuka kausku pelan. Aku membiarkannya. Begitu kausku terlepas, dia langsung mengelus dadaku. "Tubuh kamu bagus," pujinya.
Aku mendorongnya pelan sampai dia terduduk di sofa. Aku berdiri di depannya. Tanganku mulai membuka daster yang dia pakai. Kancing-kancing daster itu satu per satu terlepas. Begitu daster itu terbuka lebar, Tante Dewi membiarkannya melorot ke pinggang, memperlihatkan payudara-nya yang besar. Puting-nya sudah mengeras.
"Kamu cantik banget, Tante," kataku.
Dia tidak menjawab, hanya tersenyum menggoda. Aku langsung berlutut di depannya, menjilati perutnya, perlahan bergerak ke atas. Aku menghisap puting-nya pelan, lalu semakin kencang. Tante Dewi langsung mendesah, punggungnya melengkung. "Ahhh... Ren... enakkk..."
Aku terus menghisap puting-nya, bergantian dari satu ke yang lain. Tante Dewi mengerang tak karuan, tangannya menjambak rambutku pelan. "Lebih kencang, Sayang... lebih kencang..."
Aku menurutinya. Hisapanku makin kuat, membuat Tante Dewi makin menggeliat. Tangan kananku bergerak turun, menyelipkan jariku ke dalam celana dalamnya. Vagina-nya sudah sangat basah. Aku mulai menggesekkan jariku di sana. "Ohhh... Ren... iyaaa..."
Aku melepas hisapan dari puting-nya, lalu langsung menjilati vagina-nya. Lidahku bergerak cepat dan lincah, mengulum dan menjilati bibir vagina-nya. Tante Dewi langsung menjerit kecil. "Ahhh... Ahhh... Enak bangettt...!"
Aku terus menjilatinya tanpa henti. Tante Dewi mengerang kencang, lalu tubuhnya kejang. "Byurrrr!" Cairan hangat menyembur, membasahi wajah dan mulutku. Aku menelannya. Tante Dewi terengah-engah, dia muncrat untuk yang pertama kalinya malam itu.
Setelah dia tenang, aku mengangkat wajahku. Tante Dewi membelai rambutku yang basah. "Kamu luar biasa, Beb," bisiknya.
Aku tersenyum. Aku melepas celanaku, membiarkan penis-ku yang sudah keras terpampang jelas. Tante Dewi melihatnya. Dia langsung meraihnya, mengocoknya pelan. "Udah gak sabar ya?" tanyanya.
Aku mengangguk. Dia membalikkan badan, memunggungi aku. "Masukin dari belakang, Beb," pintanya.
Aku tidak menunggu. Aku memposisikan diriku di belakangnya, lalu memasukkan penis-ku ke dalam vagina-nya yang masih basah. "Ahhh..." desah Tante Dewi. Dia mulai bergerak mundur, menggesekkan vagina-nya ke penis-ku.
Aku menahan pinggulnya, mulai menggenjot pelan. Tante Dewi mengerang. "Lebih cepat, Sayang..." pintanya. Aku menggenjotnya lebih cepat, menghantamnya dalam. "Duk! Duk! Duk!"
Kami terus bergerak, ritmenya semakin kencang. Aku meremas payudara-nya dari belakang, menjambak rambutnya pelan. Tante Dewi mendesah, "Terus, Ren! Terus! Ahhh...!" Dia kembali merasakan gairah yang memuncak.
"Nggggghhhh... Ren... Ahhh... aku mau lagi... mau lagi...!" teriak Tante Dewi. Dia mempercepat gerakannya, pantatnya menghantam penis-ku dengan kencang. Aku tahu dia sudah di ambang batas.
"Terus, Tan! Terus!" desahku.
Dia mengerang hebat, "Ahhh... ahhh... aku... aku...!" Dan tubuhnya bergetar hebat. Dia muncrat lagi, kali ini membanjiri bagian bawah tubuhku. "Ohhhh... Ahhhhh...!" Dia ambruk di depanku, terengah-engah.
Aku memeluknya erat, menenangkan napas kami yang masih memburu. Aku belum ejakulasi, tapi sensasi yang diberikan Tante Dewi sudah membuatku melayang.
"Kamu bikin aku gila, Beb," bisiknya, mencium bahuku.
"Kamu juga, Tan," balasku. "Kayaknya aku nggak bisa jauh-jauh dari kamu deh sekarang."
Tante Dewi mengangkat kepalanya. "Memangnya kamu mau jauh?"
"Nggak akan," jawabku cepat. Aku mencium bibirnya, menahan diri agar tidak kembali memulai ronde baru. Meskipun hasrat itu masih menggebu, kami memilih untuk beristirahat.
Kami menghabiskan malam itu dengan obrolan ringan dan sentuhan pelan. Tante Dewi menyajikan teh hangat dan kami berbicara tentang banyak hal. Dia menceritakan tentang mimpinya untuk membuka toko DVD yang lebih besar, dan aku bercerita tentang rencana karierku. Ada rasa nyaman yang tidak pernah kurasakan sebelumnya.
"Kamu mau nginep lagi?" tanya Tante Dewi pelan, saat jam menunjukkan lewat tengah malam.
Aku menggeleng. "Nggak, Tan. Besok ada kerjaan pagi." Aku tersenyum. "Tapi kalau kamu mau aku temenin sampai tidur..."
Tante Dewi tertawa. "Dasar kamu!" Dia mencubit pinggangku pelan.
Aku akhirnya memutuskan untuk kembali ke kamarku sendiri menjelang subuh. Perpisahan kali ini tidak lagi terasa dingin. Ada kehangatan dan janji yang tersirat di antara kami. Aku tahu, ini bukanlah akhir, melainkan awal dari banyak malam yang akan datang.