Cerita Seks Tidur Dengan Kakak Iparku
Ini kisahku. Kisah tentang bagaimana hidupku yang dulunya penuh mimpi indah berubah jadi berantakan, lalu ketemu lagi sama yang namanya kenikmatan, meskipun itu datang dari tempat yang nggak seharusnya. Aku mau cerita semuanya, apa adanya, tanpa ditutup-tutupi.
Pernikahan dan Kehidupan Awal (Tahun Pertama)
Dua tahun lalu, aku menikah. Rasanya waktu itu dunia cuma milikku. Aku merasa jadi wanita paling beruntung sejagat raya. Gimana nggak, aku dapat suami idaman semua cewek. Pejabat kaya raya, punya puluhan hektar tanah, ruko-ruko kontrakan berjejer di mana-mana. Aku bayangin hidup bakal kayak di dongeng, tinggal di rumah gede, mobil terbaru selalu nongkrong di garasi, pokoknya hidup enak dan bangga bisa pamer ke temen-temen.
Tapi, di balik semua kebahagiaan itu, ada aja keraguan sama kekhawatiran yang nyempil di hati. Aku tahu betul kalau aku ini istri kedua; suami sudah memiliki istri dan anak-anak yang tidak tahu keberadaannya. Mereka semua nggak ada yang tahu kalau aku ini ada. Aku nggak tahu kenapa waktu itu aku mutusin buat nikah sama dia. Apa karena terpaksa atau cinta? Orang tuaku sih dukung banget, mereka berharap perubahan nasib dan peningkatan derajat keluarga. Ya, aku cuma bisa pasrah. Mungkin ini takdirku dan cukup bahagia dengan statusnya.
Perubahan dan Kesepian di Tahun Kedua
Nggak kerasa, setahun berlalu. Masuk tahun kedua pernikahan, suamiku mulai jarang pulang. Awalnya seminggu sekali, terus jadi dua minggu sekali, lama-lama sebulan sekali. Aku nggak berani nelpon atau ngehubungi duluan, takut hidupku semakin sengsara atau istri pertama suami mengetahuinya. Aku rela menanggung derita ini sendirian demi kebahagiaan orang tua yang sudah berkecukupan dari suaminya.
Hari-hariku jadi hambar, mencoba menyibukkan diri tetapi tetap gelisah, apalagi kalau malam datang, rasanya makin parah. Aku sering termenung di ranjang yang dingin, sendirian, merindukan kehangatan dan cumbuan suami. Keresahan ini lama-lama numpuk, bikin kepalaku pusing, uring-uringan, dan terbawa dalam mimpi.
Akhirnya, kebiasaan yang dulunya nggak pernah aku bayangin, mulai sering aku lakuin. Aku sering mencumbui diriku sendiri hingga mencapai kenikmatan semu dan menangis. Kebiasaan ini lama-lama menjadi adiktif dan kebutuhan batin. Aku bosan, kecewa, marah, dan tidak tahu harus melampiaskan perasaannya kepada siapa, hanya bisa menangis.
Kedatangan Kang Hendi dan Peristiwa Malam Hari
Aku tidak menyadari bahwa Kang Hendi, suami kakaknya, mengamati dirinya. Kang Hendi dan kakaknya tinggal di rumah Anna atas saran orang tua. Sampai suatu malam, aku lagi asyik sama "rutinitas" malamku. Aku lagi memanjakan diriku sendiri seperti biasa. Tiba-tiba, aku kaget setengah mati. Aku sadar kalau aku nggak lagi mimpi! Aku merasakan kenikmatan luar biasa yang berbeda dari khayalannya , apalagi pas putingku dijilat dan dihisap. "Ahhh....." "aku mendesah." "Sialan, enak banget..."
Rangsangan itu makin hebat, ciuman itu bergerak ke bawah. Ini bener-bener sesuatu yang baru dan belum pernah dilakukan suaminya, bahkan dalam mimpinya.
Aku langsung terbangun, mataku terbelalak. Aku lihat Kang Hendi ada di antara pahaku. Dia langsung merayap ke atasku, ke ranjang, dalam keadaan setengah telanjang. Jantungku rasanya mau copot.
Konfrontasi dan Rayuan Kang Hendi
Aku coba teriak, tapi suaraku tercekat di tenggorokan. Nggak ada suara yang keluar. Kang Hendi mendekat, tangannya menempel di bibirku. "Ssssttt... jangan berisik," "desisnya pelan." Aku lihat dia telanjang kecuali cawat. Ketakutan campur marah nyampur jadi satu. Aku langsung benahin pakaian tidurku yang udah robek di bagian atasnya. "Kang Hendi!" "Aku berseru, berusaha keras mengendalikan nada suaraku." "Apa yang Kang Hendi lakuin?!" "
Dia duduk di tepi ranjang, natap aku lekat-lekat. "Anna, kamu cantik," "Kang Hendi berkata dengan suara rendah, suaranya terdengar lembut namun penuh makna." "Tapi kamu nggak beruntung dalam pernikahan," "katanya merayu."
Darahku langsung mendidih. Aku pengen banget nampar mukanya. Aku inget Teh Mirna, kakaknya. Gimana bisa dia ngelakuin ini ke adiknya sendiri? "Teh Mirna mana?" "Aku tanya, suaraku sedikit bergetar."
"Teh Mirna lagi di rumah satunya," "Kang Hendi menjawab enteng." "Aku sengaja nggak ngasih tahu dia kalau mau ke sini," "imbuhnya."
"Kurang ajar!" "Aku menjerit, suaraku bergetar karena marah." "Kang Hendi ini apa-apaan sih masuk kamarku? Kang Hendi khianatin kakaknya sendiri?!" "
Aku ingetin dia lagi, "Kang Hendi inget, aku ini adiknya Kang Hendi! Maksud Kang Hendi ini apa datang ke sini?" "
"Aku kasihan lihat kamu menderita, Na," "Dia mendekat, nada bicaranya melembut, seolah ingin meyakinkan aku." "Aku mau bantu kamu," "ucapnya."
"Bantu apa?!" "Aku bertanya dengan nada tinggi, hatiku masih dipenuhi amarah."
"Aku sering ngintip kamu pas tidur," "Kang Hendi mengaku, matanya menatapku lurus."
Pelecehan dan Pergumulan Batin
Pengakuan Kang Hendi itu bikin aku kaget setengah mati dan marah mendengar pengakuan Kang Hendi, merasa malu rahasianya diketahui. Jadi selama ini dia ngelihat semua "rutinitas" pribadiku? Rahasiaku terbongkar.
Tanpa banyak bicara, Kang Hendi langsung mendekat dan memeluknya, menjebak Anna di ujung ranjang. Aku berontak sekuat tenaga, tetapi tidak berdaya melawan kekuatan Kang Hendi. Aku cuma bisa merem, nggak rela tubuhku dirambah sama dia. Air mataku netes, aku menangis tak berdaya. "Kang Hendi, lepasin aku!" "Aku memohon, suaraku serak." "Aku janji nggak bakal ngasih tahu siapa-siapa!" "Tapi permohonanku nggak dihiraukan.
Dia menciumi wajahku dengan nafsu dan menarik pakaian tidurnya hingga robek, memperlihatkan dadanya. Aku coba nutupin diri, tapi Kang Hendi makin beringas, menindihnya. "Aku cuma nolong kamu, Na," "Kang Hendi berbisik di telingaku, suaranya serak." "Aku bakal kasih kamu apa yang selama ini kamu dambakan," "katanya."
Aku nggak mau dengerin kata-katanya. Tapi anehnya, tubuhku terasa nggak berdaya dan pasrah membiarkan Kang Hendi menciuminya. "Nggak rela... nggak rela!" "Aku menjerit dalam hati, batin ini bergejolak hebat."
Terjadi perang batin yang luar biasa dalam diriku antara menjaga kehormatan dan desakan keinginan kuat yang selama ini terpendam. Satu sisi, aku pengen menjaga kehormatanku. Sisi lain, ada desakan keinginan kuat yang selama ini terpendam, mendesakku. Aku sadar, perasaan ini... ini persis yang aku impikan setiap malam. Sensasi ini, cumbuan ini...
Tanpa sadar, aku mendesah dan merintih lembut, tanda menyerah. "Ahhh..... hmpppt......" "Aku mendesah, suaraku tercekat di tenggorokan." Kang Hendi langsung ngelepas cekalan tangannya, terus meremas payudaraku, yakin Anna tidak akan berontak. Dan bener aja, tanganku yang tadinya bisa bebas, nggak aku pakai buat ngedorong dia. Justru, tanganku malah meremas rambut Kang Hendi dan menekannya ke dadanya.
Mulutku terus-terusan nyoba nolak, "Kang Hendi... jangan..." tapi tindakanku malah kebalikannya. Akal sehatku udah hilang entah ke mana, hanya ada rangsangan dahsyat. Aku meraba punggung Kang Hendi, ngebayangin keperkasaannya, bertanya apakah ini jawaban atas mimpinya.
"Nggak!" "Aku menjerit, menyadari pengkhianatan ini."
Tapi, cumbuan Kang Hendi emang ahli banget dan memenuhi kebutuhan Anna yang terkekang, ledakan gairah wanita kesepian. Perang batinku pun berakhir dan ia mengikuti naluri gairah. "Kang Hendi..." "Aku memanggil namanya lirih, saat puting susuku disedot kuat-kuat."
Eskalasi Sensual dan Interaksi Lebih Lanjut
Aku menggeliat kegelian, merasakan hisapan yang nikmat dan selangkanganku basah, tubuhnya menggeliat bagai ular kepanasan. Hisapan itu bener-bener nikmat, sampai-sampai selangkanganku basah. Tubuhku menggeliat bagai ular kepanasan. "Payudaramu montok banget, Na..." "Kang Hendi memuji, suaranya serak."
Meskipun hati Anna tidak menerima ucapan kotor, perasaan itu tertutup oleh kemahiran Kang Hendi mencumbu. Aku jadi agresif, mendorong dadanya untuk mengejar ciuman. Tanganku dorong kepala Kang Hendi ke bawah, ke perutku, ingin merasakan seperti mimpinya.
Kang Hendi ngerti. Dia ngangkat pinggulku, terus ngelepas celana dalamku, hingga Anna telanjang bulat. Kang Hendi terbelalak melihat ketelanjangan Anna, yang membuat Anna bangga dengan tubuhnya. "Kamu cantik, Na... Vaginamu indah banget," "Kang Hendi memuji lagi, suaranya terdengar kagum."
Aku natap alat kelamin Kang Hendi yang besar dan panjang, membuatnya bergairah. Kang Hendi ngelepas cawatnya. Sekarang, alat kelaminnya kelihatan jelas, tegang dan gagah. Aku ngebandingin sama punya suamiku. Jauh beda. Tanpa ragu, aku nyambut Kang Hendi yang kembali menindihnya.
Aku meluk Kang Hendi erat. Ciumannya menghanyutkan, bikin aku makin gila. Gesekan alat kelamin Kang Hendi semakin meledakkan gairahku. Aku nyodorin payudaraku, merasakan hisapan dan remasan dengan kenikmatan, tangannya mulai menggerayangi tubuh Kang Hendi menuju alat kelaminnya. Aku meremas alat kelaminnya, mengocoknya, dan menggelitik ujungnya. "Ehhhhh....." Kang Hendi melenguh.
Kang Hendi muter badannya, alat kelaminnya sekarang ada di depan wajahku. Tanpa mikir panjang, aku langsung mengulum alat kelamin Kang Hendi, sesuatu yang belum pernah ia lakukan pada suaminya. Aku pengen ngerasain kebebasan ini dan melampiaskan fantasi liar.
Balasan dari Kang Hendi nggak kalah bikin aku syok. Dia menjilat kemaluanku, yang membuatnya terkejut, bergetar, dan melayang. Pinggulku bergerak mengikuti jilatan Kang Hendi. Tubuhku gemetar menahan desakan kuat, perutku mengejang, kaki merapat, otot menegang, jantung terasa berhenti.
"Ahhh... ahhh... lebih cepat!" "Aku mendesah, suaraku tercekat." Aku mencapai orgasme pertama, tubuhku menghentak, mengeluarkan cairan hangat. Kenikmatan puncak ini luar biasa dan dahsyat, terasa terbebas dari sesuatu yang menyesakkan. Aku merintih kenikmatan, malu dengan pengakuannya, tetapi tidak ingin Kang Hendi meremehkannya.
Kang Hendi tersenyum merasa menang karena telah membuatnya orgasme duluan. "Aku butuh kamu, Kang... Aku butuh ini..." "aku mengaku, menunjuk alat kelaminnya."
Aku meremas dan mengulum alat kelamin Kang Hendi lagi, ingin ia merasakan kenikmatan dan memohon. Aku bertekad mengeluarkan air mani Kang Hendi secepat mungkin. Kang Hendi menggerakkan pinggulnya seolah bersenggama. Aku menghisap kuat-kuat, tetapi Kang Hendi masih bertahan. Aku mulai kelelahan, tetapi gairahku bangkit kembali, kemaluanku mengembang dan basah, sementara alat kelamin Kang Hendi tetap tegang dan keras.
Puncak Kenikmatan dan Akhir Perselingkuhan
"Ganti posisi, Na..." "Kang Hendi berbisik, suaranya serak karena gairah." Dia mulai menggesekkan alat kelaminnya di sekitar kemaluan Anna, menyentuh klitorisnya. "Masukin, Kang... Masukin!" "Aku menjerit, melupakan kehormatan dan gengsiku ." Aku nyaris orgasme lagi hanya dengan membayangkan.
Kang Hendi menggodanya, tahu Anna sudah dalam kendalinya. Aku nekanku pantat Kang Hendi, membuatnya memasukkan alat kelaminnya sepenuhnya. "Ahhhhhhh....." "Aku berteriak kegirangan, puas dan lega ." Kang Hendi terbelalak dan tersenyum, mengatakan Anna nakal dan akan membuatnya "mati keenakan"."
Kang Hendi mulai menggerakkan pinggulnya, dan Anna mengimbanginya dengan goyangan pinggulnya yang liar dan teratur, membuat Kang Hendi memuji. "Mantap, Na..." "Kang Hendi memuji, suaranya berat." Aku terus bergoyang dan mengedut-edutkan otot vaginaku, membuat Kang Hendi mengerang. "Ahhh... terus, Na!" Kang Hendi mempercepat tusukannya, dan Anna mengimbanginya, ingin membuatnya cepat keluar. Aku mengakui permainan Kang Hendi luar biasa, ia melihat Kang Hendi berusaha keras bertahan.
Pinggul kami bergerak semakin cepat, tidak beraturan. Aku tidak tahan lagi, kemaluanku merekah, putingku mengeras. Kang Hendi menangkap dan menyedot putingnya. "Kang Hendi! Cepat keluar! Cepat!" "Aku berteriak."
Beberapa detik kemudian, Anna ejakulasi diikuti Kang Hendi. Kami berpelukan erat dan bergulingan di ranjang, menikmati puncak kepuasan bersama. Kami nggak peduli sama keringat yang membanjiri tubuh, nggak peduli sama seprai yang udah berantakan. Erangan dan jeritan kami bersahutan. Aku masih merasakan kedutan alat kelamin Kang Hendi dalam kemaluannya.
Aku termenung, memikirkan apakah kehangatan ini akan berlanjut, konsekuensi perselingkuhan, dan perasaan kakaknya, orang tuanya, dan suaminya. Tapi aku tidak ingin memikirkannya saat itu dan ingin menikmati malam itu sepenuhnya bersama Kang Hendi, yang telah memberinya pengalaman baru dalam bercinta dan membuka lembaran baru dalam hidupnya.
Sejak malam itu, Anna dan Kang Hendi selalu mencari kesempatan untuk berhubungan intim. Aku harus akuin, Kang Hendi sangat jantan, perkasa, dan pandai memuaskan wanita kesepian. Kang Hendi selalu datang dengan gaya permainan yang berbeda, membuat Anna tidak pernah bosan. Salah satu gaya favoritku itu waktu Kang Hendi berdiri sambil memangku aku, dengan kaki Anna melingkar di pinggangnya, dan alat kelamin Kang Hendi menusuk dari bawah, sambil berjalan mengelilingi kamar dan berhenti di depan cermin, di mana Anna bisa melihat pantatnya bergoyang dan alat kelamin Kang Hendi keluar masuk kemaluannya.
Perselingkuhan itu tidak berlangsung lama karena Anna takut terungkap. Ironisnya, setelah kejadian itu, Anna lah yang sering meminta Kang Hendi datang ke kamarnya. Aku tidak bisa menahan diri, terutama saat melihat Kang Hendi bercanda mesra dengan kakaknya. Anna pernah mengintip mereka bercinta, yang membuatnya bingung dan akhirnya kembali ke kamarnya untuk melakukannya sendiri.
Aku merasa keadaan ini tidak mungkin terus berlanjut, selain akan terungkap, akupun rasanya akan menderita harus bertahan seperti ini. Dengan berat hati, Anna memutuskan pindah ke kota, menjual semua hartanya kecuali mobil, untuk modal kehidupan barunya.